Saturday, March 28, 2009

Sekilas Tentang Kekuatan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM)

Scorpene TLDM

Awak kapal selam Scorpene TLDM



Awal terbentuknya Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) adalah satuan kecil para sukarelawan yang direkrut pemerintah kolonial Inggris untuk melakukan patroli keamanan di perairan sekitar Semenanjung Malaya.

Sempat beberapa kali berganti nama, keberadaan TLDM kini patut di-perhitungkan karena ia telah menjelma sebagai satu kekuatan bahari militer yang maju. Bermodalkan belasan kapal perang berteknologi nan canggih, negara kesultanan kaya kelapa sawit ini ikut mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Malaka dan sebagian Selat Singapura yang merupakan salah satu jalur niaga bahari cukup penting.

Wilayah operasi TLDM kini tak hanya di sekitar Semenanjung Malaya, namun telah merambah ke kawasan utara Pulau Kalimantan di mana negeri jiran ini memiliki banyak ‘kepentingan nasional’.

Sama halnya dengan program pengadaan Korvet Nasional TNI-AL yang mengadopsi korvet Sigma, Malaysia pun melakukan hal yang sama dengan mengadopsi Meko-100 buatan Jerman. Bergabungnya beberapa kapal perang tipe Meko-100 buatan Jerman ini yang juga telah mampu dibangun digalangan kapal dalam negeri membuat TLDM selangkah lebih maju dalam pengembangan kapal perangnya.

Belum lagi kekuatan kapal selam kelas Scorpene asal DCNS-Perancis, membuat TLDM semakin berniat mendominasi dinamika kehidupan perairan di sekitar Selat Malaka dan Laut China Selatan.
Perlahan namun pasti, kemampuan operasional TLDM kabarnya juga telah meningkat pesat. Dari semula hanya mampu berkiprah di perairan dangkal (brown water navy), kini jadi kekuatan laut yang bisa malang melintang di samudera (blue ocean navy).

Kekuatan saat ini dan masa depan
Pada dekade 1980-an, TLDM membeli empat korvet kelas Laksamana buatan Italia. Semula keempat kapal itu milik Irak, tapi batal dikirim karena negara itu diembargo senjata. Tak lama berselang, menyusul bergabung dua frigat kelas Lekiu.

Disainnya mengacu kepada frigat kelas Yarrow F2000 yang berbobot mati 2.300 ton dan dipersenjatai rudal permukaan ke permukaan Exocet MM40 II, rudal anti pesawat tempur yang dilun-curkan secara vertikal (VLS) Sea Wolf plus helikopter Super Lynx. Sebagai pelengkap, TLDM juga mengadopsi dua kapal frigat kelas Kasturi buatan Jerman.

Saat masa pakainya hampir habis, seluruh kapal perang ini dan sepasang kapal penyapu ranjau kelas Mahameru diremajakan lewat Program Perpan-jangan Masa Pakai (Service Life Extension Program – SLEP). Divisi bahari pabrikan senjata terkemuka Perancis, Thales, ditunjuk selaku pelaksananya. Usai diremajakan, seluruh kapal perang ini masih dapat berdinas hingga 10 tahun ke depan.

Untuk menyangga kemampuan operasinya, TLDM menambah jumlah armada frigat kelas Lekiu sebanyak dua kapal. Pada keduanya dipasang teknologi perang bahari terkini yang ada di kapal perusak kelas T45.
Selain itu, TLDM tetap mengagendakan pembelian satu kapal selam Diesel electrik kelas Scorpene (sebagai pelengkap kapal selam sekelas KD Tunku Abdul Rahman yang telah lebih dulu tiba), plus 27 kapal patroli generasi baru (New Generation Patrol Vessel – NGPV) kelas Kedah serta beberapa pesawat patroli bahari. Dua di antara ke 27 NGPV kelas Kedah telah dite-rima TLDM pada pertengahan 2006 (KD Kedah dan KD Pahang).

Sementara dua kapal sekelas lainnya, KD Perak dan KD Treng-ganu, diharapkan dapat diterima TLDM akhir 2009. Tentera Laut Diraja Malaysia berharap pada 2020 mereka telah memiliki enam kapal untuk tiap jenis kapal kombatan yang sekarang ada di gudang senjatanya.

Dalam rangka memenuhi kebu-tuhan akan pesawat terbang yang mampu mengemban misi patroli bahari jarak jauh, TLDM mengan-dalkan empat pesawat patroli bahari Beechcraft B200 T milik Tentera Udara Diraja Malaysia. Akibat keterbatasan anggaran, hingga kini belum terdengar kabar bahwa TLDM akan memiliki pesawat patroli baharinya sendiri.

Empat kapal kombatan TLDM yang kinerjanya dianggap sudah tidak lagi memenuhi nilai baku operasional dihibahkan kepada Badan Pengawas Bahari Malaysia (MMEA). Masing-masing dua kapal patroli lepas pantai kelas Musytari (KD Musytari (160) dan KD Marikh (161)) serta dua kapal patroli kelas Keris (KD Lembing (P40) dan KD Sri Melaka (P3147)). ©alutsista, dikutip dari Majalah Cakrawala

7 comments:

Unknown said...

gw yakin mereka emang lbh kuat dr TNI AL tp bentar lg kt jg lwbihkust dari mereka krn kt mrnang pengaaman mea dan gak lama lg kapal selam yg dipesan dari Russia bakal dtg...TLM mana pernah perang sih? Sikat su TLDM maJulah TNI AL....

Unknown said...

Hidup TNI....Hidup TNI-AL BRAVO INDONESIA.....
Ideal-nya :

2-5 Kapal jenis Freegate untuk setiap Propinsi + 1 (satu= cadangan/kelebihan luas wilayah dibanding propinsi lainnya)

Sya percaya Kekuatan laut masih menjadi lini terdepan dalam pertahanan dan penyerangan.

Kedua Udara.

Menurut sya TNI-AL harus punya Armada laut yg bisa Menyerang/bertahan dari Laut Maupun Udara.

Klo darat sya udah gk ragu lagi ama kemampuan TNI-AD (apalagi sama satuan Pasukan Khsusus+Raidernya)

Plus jangan remehkan Milisi Pro Kesatuan Nusantara (klo diperlukan kyk Aq ini gitu lho.....)

Bravo Indonesia

femysuryadi said...

peralatan sih modern tp sdm nya bencong ya sami mawon....... jalas veva jaya mahe di laut RI jaya.....

Unknown said...

kt INDONESIA memperoleh kedaulatan sebagai negara dengan cara memperjuangkannya dengan PERANG keringat dan darah serta nyawa yang tertumpah dibumi pertiwi ini, sedangkan malaysia memperooleh kemerdekaan dengan hanya pemberian dri negara lain bukan dari hasil perang jd ngapain kita takut dengan malaysia???? sedangkan pahlawan kita mempertahankan dan memperjuangkan keMERDEKAAN hanya dengan BAMBU RUNCING !!!!!!!!!!!!!!

darah satria said...

Orang indonesia nampaknya, tidak mengunakan akal sebelum membuat sesuatu...bercakap seperti orang dunggu dan tidak pergi kesekolah mudah di pegaruhi dan kurang bijak..kalau pemikiran sebegini tidak di ubah...kamu akan pasti ketinggalan dan hanya seperti katak bawah tempurung..maafkan saya..malaysia boleh mengalah indonesia dengan mudah..tapi buat apa membunuh sesama islam dan rumpun..tapi anda??? jelek betulllll la kamu semua...

Dein said...

Malaysia ada pengalaman dalam menangkis serangan Laut TNI-AL masa konfrontasi...masa tu kelengkapan Malaysia jauh terkebelakang tapi Indonesia gagal menawan kami...

Bagi kamu kecanggihan perang adalah untuk menakluki jiran jiran kamu adalah satu eprbuatan yang tidak bermoral..kamu tidak akan maju kerana akan ada negara yang mencantas kemodenan kamu nanti...sepatutnya sistem yang ada hanya untuk mempertahankan kedaulatan kamu bukannya untuk menyerang negara lain....thinks positive....

Khaer said...

Tak sikit pun qte orang indonesia takut ngan nagare copycat cam malingsial. 1964-1965 Indonesia tak kalah dari Malaysia. Lagipula masa tu Indonesia bukan berperang ngan Malaysia. Tapi ngan sekutu2 British. Kami tak kalah. Tapi kami berdamai ngan fihak krajaan inggeris. Jadi jan berbangga hati. Awak boleh tengok globalfirepower.com and tengok siapa yang terkuat di ASEAN. Indonesia is the 14th strongest military power in the world and the 1st in south east asia...

Photobucket
Defence (10) Ideologi (6) Keamanan (5) Konflik (1) Pertahanan (16) TNI (10) TNI AD (4) TNI AL (3)
Defender Magazine