Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

Saturday, March 28, 2009

Terus Menatap Ke Depan










KOMANDO PASUKAN KATAK (KOPASKA). Siapa yang tidak kenal Pasukan Kebanggaan TNI AL itu? Dimana untuk “mengenakan brevetnya” itu seorang anggota TNI AL harus mendaftar untuk selanjutnya mampu mengikuti dan melampaui semua test dari “nol”. Dengan kata lain harus betul-betul “KUAT-SEGALANYA”.Sebagai sebuah Satuan Khusus (Special Warfare) TNI AL, KOPASKA secara kuantitatif tidak punya arti apa-apa. la bukan salah satu Unsur dalam jajaran TNI AL, tetapi cuma salah satu Unit, bahkan lebih kecil dari unit-unit dalam jajaran TNI AL secara keseluruhan. Tetapi secara kualitatif KOPASKA adalah Satuan Pemukul Strategis (Band. US Navy SEAL, SBS AL Inggris, dan pasukan elit sejenis di sejumlah negara lain, khususnya Pasukan Katak Italia yang berhasil menghancurkan sekitar 75 Armada AL Inggris di Malta pada Perang Dunia ke-II).
Parameter kualitatif KOPASKA ini dibuktikan dengan Tri-Tugas yang dibebankan ABRI (saat ini TNI) kepada satuan kecil ini, diawal kelahirannya pada tanggal 31 Maret 1962. Dalam Operasi Militer merebut Irian Barat dari tangan Belanda itu, KOPASKA mendapat tugas khusus :

* Pertama, melaksanakan intai pantai Biak (combat reconnai-sance) dan pada hari-H, me-laksanakan penghancuran ha-lang-rintang alam maupun buatan (Belanda) di pantai pendaratan.

* Kedua, melaksanakan serangan komando (commando raid) terhadap sasaran-sasaran di laut dan di pantai pendaratan, termasuk melaksanakan pen-culikan Laksamana Reeser, Panglima Tentara Belanda di Irian Barat.

* Ketiga, melaksanakan peng-hancuran Kapal Induk HMS Karel Doorman dengan serangan Torpedo Berjiwa (human torpedo).
Tritugas ini sesungguhnya adalah sebuah “mission impossible” baik dari segi persiapan maupun pelaksanaannya. Banyak faktor yang tidak diperhitungkan atau yang belum sempat diperhitungkan bermunculan satu demi satu, khususnya mengenai SDM dan logistik tempur serta prosedur standar operasi dalam sebuah operasi ampibi yang melibatkan lebih 100 kapal perang dan belasan ribu pasukan ABRI. Sementara TNI AL baru memiliki beberapa orang yang berkualifikasi Pasukan Katak jebolan UNDER WATER DEMOLITION TEAM UDT US NAVY.

Untunglah, di-bawah koordinasi Mayor Laut O.P. Koesno komandan kapal selam KRI Cakra, berhasil dibentuk satuan yang tadinya dimaksud sebagai pasukan berani mati, melalui tahapan pembentukan Instruction Group yang pada gilirannya membentuk sebuah pasukan elit baru yang diberi nama Komando Pasukan Katak Angkatan Laut Republik Indo-nesia KOPASKA, yang dalam realitas operasionalnya terdiri dari anggota-anggota TNI AL dan Kopassus (RPKAD).
Sementara itu untuk memenuhi kriteria sebuah pasukan katak, maka Kelompok Bantu direkrut dari KPBA (Penyelaman). Demikian halnya dengan Unit Torpedo Berjiwa direkrut dari berbagai satuan dalam jajaran Armada TNI AL dan Kodam 5 Jaya. Dengan bekal itulah KOPASKA lahir ditengah-tengah persiapan TRIKORA pada awal tahun 1962.

Memasuki tahun 2001, KOPASKA sudah jauh berkem-bang. Bahkan berubah secara radikal, baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini pada satu sisi menunjukkan persepsi dan apresiasi pimpinan TNI AL yang semakin memahami hakikat keberadaan KOPASKA, dibanding 20 tahun lalu. Pada sisi lain karena berbagai kecenderungan perkembangan dan perubahan yang terjadi yang menuntut antisipasi dinamis sesual dengan karakter ancaman dan tantangan baru sebagai konsekuensi logis dan proses globalisasi. Karena itu sangat mengagumkan bahwa ketika dalam tempo yang relatif singkat (1968-2000) bagi sebuah pa-sukan khusus, KOPASKA sudah menjadi bagian integral dari Sistem Senjata Armada Terpadu di dua Komando Armada Ka-wasan, Barat dan Timur. Padahal tiap angkatan hanya melahirkan beberapa “gelintir” anggota saja karena proses “pencetakannya” yang memakan waktu relatif lama dan biayanya cukup mahal. Apalagi karena parameter mental (disiplin, hirarki dan kehormatan militer) digunakan untuk mengu-kur lulus (qualified) tidaknya seorang calon anggota KOPAS-KA, lebih kental ketimbang persoalan fisik semata-mata.
KOPASKA juga sudah mam-pu memenuhi tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka sesuai dengan acuan-acuan yang sedang terus dikembang-kan baik untuk peperangan konvensional maupun inkonven-sional. Anggota-anggotanya bahkan sudah mendapat kesem-patan bergabung dalam satuan-satuan Indonesia dibawah PBB di beberapa negara, seperti Garuda IX/UNIMOG di Irak, Garuda XII/UNTAC di Kamboja, Garuda XIV/UNPROFOR di Bosnia-Herzegovina. Mereka akseptabel dimana-mana, baik dilingkungan TNI AL maupun diluar itu.

Mencermati kelahiran KO-PASKA, maka prajurit berkuali-fikasi KOPASKA sesungguhnya tidak cuma ada di TNI AL, tetapi juga di KOPASSUS. Kerjasama ini sudah terjalin lama. Oleh sebab itu, kelahiran KOPASKA TNI AL yang secara administratif organisatoris ditetapkan pada 31 Maret 1962 dengan Surat Keputusan Menteri / Kepala Staf Angkatan Laut No. 5401.13, sesungguhnya adalah kelahiran Satuan PASKA KOPASUS juga. Dalam pada itu, sejak awal 2001, 3 kompi prajurit KOSTRAD TNI-AD telah menyelesaikan latihan khusus Intelijen Tempur Matra Laut dan Selam Dasar (Scuba) di KOPASKA. Hal ini di satu sisi menunjukkan semakin bertam-bahnya kepercayaan yang diberikan kepada KOPASKA. Disisi lain semakin menambah jumlah personel TNI-AD dengan kualifikasi Intelijen Tempur Matra Laut dan Selam Dasar. Rangkai-an kerjasama ini ditandai dengan Telegram Panglima TJADUAD (KOSTRAD) No. ST. 037/62 tertanggal 28 April 1962 yang melahirkan Surat Perintah Men/KASAD No. SP 325/1962 dan SK Men/KASAD No. 1301.4 tanggal 7 Mei 1962, yang berlanjut dengan keluarnya Surat Perintah Komandan RPKAD (Kolonel TNI Mungparhadimulya) No. SP 111/S/1962, yang menetapkan sejumlah anggota KOPASKA sebagai Instruktur untuk melatih anggota-anggota RPKAD (KO-PASSUS) yang kemudian mela-kukan tugas di TRIKORA sebagai anggota KOPASKA.
Adapun tugas-tugas yang berkaitan dengan KAMLA yang dapat dilaksanakan oleh Pasukan Katak adalah tugas-tugas mengemban fungsi TNI AL antara lain : intelejen maritim, peng-amanan kekayaan laut, unsur-unsur peranan amfibi, anti teror di laut, anti infiltrasi/subversi di laut, anti pembajakan dilaut, anti pelanggaran wilayah laut, anti penyelundupan, anti imigrasi gelap/perdagangan budak wa-nita, pengamanan penelitian di laut, anti pencemaran laut, dan lain-lain. Untuk itu, setiap insan Pasukan Katak harus memiliki Buku Putih KAMLA tersebut untuk bisa memahami serta menghayati dalam pelaksanaan tugas-nya. (hal. 219).

Banyak pelajaran penting yang bisa kita baca dari buku “DARI PANTAI BIAK KE PONDOK DAYUNG DAN UJUNG” ini. Salah satunya adalah tentang Terorisme di laut (hal. 230 - 251). Hal ini meliputi : Operasi anti teror di laut(strategi, taktik, pola operasi, fasilitas lepas pantai dan ranjau), Pendidikan dan latihan anti teror, hakekat maupun bentuk serta obyeknya, Cara beroperasi, Satuan Tugas Anti Teror, serta Komando dan Pengendalian
Secara garis besar, tulisan ini sangatlah bagus. Hanya saja banyak terdapat pemborosan kalimat/kata didalamnnya, disamping juga “kurangnya” tanda baca : titik dan koma. Sehingga pada kalimat (bagian) tertentu berkesan “membingung-kan”. Namun demikian, tidak dipungkiri, ”kuatnya” tulisan ini didasari dengan tingginya “jam terbang” penulis sebagai seorang KOPASKA. Diantaranya, tahun 1970, penulis mengikuti pendi-dikan di US Navy Training Center Great Lakes, Illinois dan Defense Institute di Texas. Selama disana, penulis mengikuti kelas extensi di Universal Academy. Tahun 1972 kembali ke Indonesia dan ditempatkan di Staf Pendidikan Sekolah Intelijen Angkatan Laut SEKINTAL. Kemudian di SU-1 DAERAL III Jakarta sebagai Kepala Seksi Pengusutuan untuk membongkar hilangnya 11.000 peluru meriam dari gudang senjata di P. Edam (penyidikan kasus itu setiap jam 6 pagi, dimonitor oleh Kaskomkamtib Laksamana Soedomo). Juga, diperbantukan kepada Panglima LAKSUSDA JAYA sebagai Staf Ahli Panglima (Mayjen G.H. Mantik). Kemudian ke Dispamal (Mabesal). Untuk kepentingan yang lebih besar, tahun 1975 di non-organikkan (Pusintelstrat), dengan pangkat terakhir Sersan Mayor. Karena reputasi interna-sionalnya, tahun 1975 mendapat promosi Special Agent dari Interpol Congress di Miami, USA. Tahun 1976 promosi Captain Security Officer dari Police International di New Brunswick Canada, sekaligus Registered International Criminologist dari institusi yang sama. Posisi ini memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-nya sebagai “generalis” dengan mengikuti kelas-kelas ekstensi psikologi, filsafat, manajemen, bisnis, teologi agama-agama. Aktifis lebih 200 seminar/lokakarya/simposium/kongres/konferensi/pelatihan, nasional dan internasional, baik sebagai peserta, moderator atau nara-sumber. Dua diantaranya (dalam konteks buku ini). Moderator pada Seminar Hubungan Sipil-Militer (2000) dengan pembicara Laksda TNI Dr. Sapto Poerwowidagdo (TNI AL), Mayjen TNI Sudrajat (Mabes TNI), Mayjen TNI Bimo Prakoso (lemhanas). Penulis yang sering membantu (asis-tensi) di beberapa instansi pemerintah ini, juga selama 17 tahun membantu sebuah ORNOP di bidang LITBANG. Juga, mantan Sekretaris Nasional Dialog Nasional Irian Jaya era Presiden Habibie (1998/1999) yang pernah mendirikan Center For Papuan Studies CENPAS. (hal 320-321).
.“… Dari pantai Biak ke Ujung … Jalan panjang lewat Pondok Dayung …. Dari Trikora terus ke Dwikora … Hanya demi membela negara” … merupakan bait kedua dari lagu Hymne KOMANDO PASUKAN KATAK yang diciptakan oleh penulis sendiri. “Berusaha memberi segumpal emas, meskipun hanya diwajibkan segumpal tanah” merupakan motto penulis. Suatu hal yang sangat kita banggakan dari buku ini adalah kita dapat mengenang kembali cikal-bakal kejayaan KOPASKA dari “embrio”nya hingga saat ini dengan terus menatap ke depan. Lebih dari itu, banyak pelajaran penting yang dapat menambah wawasan kita semua. Selamat berjuang prajurit “Combat Frogman”ku, TAN HANNA WIGHNA TAN SERNA. Salam KOPASKA : HALLO KINGS!, HALLO KINGS!, HALLO KINGS! … KOPASKA!(Sumber : Cakrawala TNI-AL)
Read More......

Monday, November 17, 2008

Peran TNI Angkatan Laut Dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Oleh : Mayor Laut (KH) Suratno, S.S.

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan dari Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta oleh Soekarno-Hatta merupakan cita-cita perjuangan seluruh bangsa Indonesia untuk membentuk negara yang merdeka dan berdaulat serta menentukan nasibnya sendiri. Para pemuda menghendaki agar perebutan kekuasaan segera dilakukan dari tangan Jepang dan tentara harus segera dibentuk yang berasal dari para anggota Peta, Heiho, dan Kaigun. Mengetahui tekad para pemuda ini, Letnan Jenderal J. Nagano, Komandan Tentara XVI Jepang, pada tanggal 19-20 Agustus membubarkan Peta dan Heiho atas perintah Komando Tentara Jepang di Jawa tertanggal 17 Agustus 1945. Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 juga menyetujui pembubaran Peta di Jawa dan Bali, dan lasykar rakyat di Sumatera serta Heiho di seluruh Indonesia.

Tanggal 22 Agustus 1945, PPKI memutuskan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk menampung anggota Peta dan Heiho sebagai wadah se-mangat perjuangan putra-putri Indonesia dengan tugas untuk menjaga keamanan umum dalam negeri. Presiden Soekarno tanggal 23 Agustus 1945 menyampaikan pidato radio yang antara lain menyampaikan pesan: "Saya mengharap kepada kamu sekalian hai prajurit bekas Peta, Heiho dan pelaut-pelaut serta pemuda-pemuda lainnya untuk sementara waktu masuklah dan bekerjalah dalam Badan-badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam tentara".

Pada tanggal 10 September 1945 terbentuk BKR Laut untuk menggantikan wadah perjuangan yang lebih sesuai dibanding SPI (Serikat Pelaut Indonesia) yang hanya bergerak dalam perda-gangan dan pelayaran. Dengan terbentuknya BKR Laut maka tugas dalam mengamankan dan mempertahankan setiap jengkal wilayah Indonesia khususnya keamanan di laut dan pantai menjadi tanggung jawab para pelaut. Tokoh-tokoh pendiri BKR Laut diprakarsai oleh M. Pardi, Adam, R.E. Martadinata, R. Surjadi, dan Untoro Kusmardjo. Komite Nasional Indonesia Pusat pada tanggal 10 September 1945 mengesahkan berdirinya BKR Laut Pusat dan pemerintah menunjuk M.Pardi sebagai pimpinan tertinggi BKR Laut berkedudukan di Markas Besar Jl. Budi Utomo, Jakarta Pusat. Tugas pertama yang di-lakukan adalah mengambil alih gedung-gedung Jawa Unko Kaisya, komplek pelabuhan Tanjung Priok, dan kapal-kapal kayu dan fasilitas maritim lainnya.

Bersamaan itu pula armada kapal perang Inggris sebagai pasukan Sekutu tanggal 16 September 1945 berlabuh di Tanjung Priok dipimpin oleh Rear Admiral (Laksda) W.R. Patterson. Kedatangan tentara Sekutu sebagai pemenang perang melawan Jepang ternyata diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administrasion) yang intinya ingin menancapkan kekuasan Belanda di Indonesia. Akal busuk yang diterapkan Inggris dan Belanda ini ditentang oleh bangsa Indonesia yang telah merdeka dengan berbagai perlawanan bersenjata. Melalui Maklumat No. 2/X tanggal 5 Oktober 1945 secara resmi berdiri Tentara Keamanan Rakyat bagian Darat dan Laut. Pengesahan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat bagian Laut diumumkan pada tanggal 15 November 1945 dan M.Pardi ditunjuk sebagai pimpinan Markas Tertinggi.

Situasi menjadi tidak menentu karena ada tiga pihak yang berkuasa secara de jure di bumi Indonesia. Jepang meskipun sudah kalah perang tetapi tidak serta merta mau dilucuti senjatanya tanpa ada perintah dari komando tentara Jepang. Sedangkan Indonesia sebagai negara yang baru menyatakan kemerdekaannya dengan sekuat tenaga berjuang untuk mengusir penjajah dengan kemampuan yang ada. Demikian juga Sekutu dalam hal ini Inggris dan NICA yang terikat dalam suatu perjanjian yang dikenal dengan Civil Affairs Agreement, datang ke Indonesia untuk meng-ambil alih kekuasaan Jepang dan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sekutu telah mendaratkan pasukannya di beberapa kota besar di Indonesia terdiri dari 3 Divisi Tentara Inggris, 2 Divisi Tentara Australia, dan 12 Kompi Tentara Belanda.

Ekspedisi Laut Mengobarkan Semangat Perjuangan

Untuk mengobarkan semangat dan mem-pertahankan proklamasi kemerdekaan dari pen-jajahan kembali bangsa asing di seluruh nusan-tara maka dilaksanakan ekspedisi-ekspedisi laut dari Pulau Jawa ke pulau-pulau lainnya. Pasukan ekspedisi yang dikenal dengan Pasukan Sebe-rang ini diberangkatkan dengan nama sesuai de-ngan tujuannya seperti Ekspedisi Pulau Nya-mukan (Jamuan Riff), Ekspedisi Bali, Ekspedisi Maluku, Ekspedisi Kalimantan, dan Ekspedisi Sulawesi serta Ekspedisi Australia.

a. Ekspedisi Pulau Nyamukan
b. Ekspedisi Kalimantan
c. Ekspedisi Maluku
d. Ekspedisi Sulawesi.
e. Ekspedisi Bali
f. Ekspedisi ke Australia

Menerobos Blokade Laut Belanda

Disamping melakukan berbagai ekspedisi, Angkatan Laut Republik Indonesia (19 Juli 1946 berubah dari TKR Laut menjadi ALRI) juga melakukan penerobosan blokade laut Belanda untuk mendapatkan persenjataan dan kelengkapan tentara lainnya. Di Singapura dibentuk "Indonesia Office" sebagai perwakilan untuk mela-kukan penerobosan blokade Belanda yang me-miliki tiga buah speedboat dan salah satunya dipergunakan Mayor John Lie di Port Swettenham. Penerobosan dilakukan dengan memuat senjata dan obat-obatan serta perlengkapan lainnya untuk kebutuhan Angkatan Perang RI ke daerah pantai timur Sumatera khususnya daerah Aceh yang tidak diduduki Belanda. Selanjutnya pemerintah Indonesia lebih giat dalam mendapatkan senjata dari Malaysia dan Singapura maka diutus seorang perwira dari MBU Yogyakarta bernama Mayor Suraputra ke Singapura untuk mendapatkan perlengkapan ALRI. Untuk kepentingan tersebut dibentuk Skuadron Blokade Runners sebagai armada penyelundup dengan membeli tujuh belas speedboat dari Naval Disposal Board di Singapura. Permasalahan yang timbul adalah penjagaan ketat dari pihak Belanda dan Inggris sebagai suatu kegiatan yang ilegal. Untuk menjalankan misi "ilegal" ini dipanggil pemuda-pemuda pelaut Indonesia untuk mengoperasikan speedboat dengan tugas utama memasukkan senjata dan perlengkapan militer lainnya ke Indonesia.

(Sumber: 1. Sejarah TNI Angkatan Laut 1945-1950, Dispenal, Jakarta 2006; 2. Perjuangan Laskar Laut Sibolga dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI, USU Press, Medan, 2006; 3. 60 Tahun TNI AL Mengabdi, Dispenal, Jakarta, 2006)

Pertempuran Laut

Pertempuran-pertempuran di darat maupun di laut terjadi antara ALRI melawan Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI. Begitu hebatnya penetrasi Belanda dalam mengurung gerakan ALRI dan para pejuang lainnya di laut mengakibatkan pasukan ALRI terdesak dan meneruskan perjuangan di front pertempuran di darat.

Pertempuran Laut Cirebon.
Pertempuran di Teluk Sibolga.
Pertempuran Darat Sebagai Benteng Terakhir

Setelah medan perlawanan ALRI di laut terdesak maka tidak ada pilihan lain pertempuran di darat menjadi benteng terakhir dalam memper-juangkan tegaknya kemerdekaan. Pertempuran terjadi di kota-kota besar seperti Surabaya, Pa-dang, Medan, Cirebon, Semarang, Palembang Tegal dan lain sebagainya dimana pasukan Sekutu bersama NICA masuk dengan dalih akan melucuti tentara Jepang. Sekutu mendarat di Surabaya tanggal 25 Oktober 1945 dengan kekuatan 3.000 pasukan dipimpin Brigjen Mallaby. Kedatangan Sekutu disambut dengan penuh curiga oleh para pemuda Surabaya dan Pemuda Republik Indonesia Angkatan Laut (PRIAL) tanggal 28 Oktober 1945 menyerang pos pertahanan Inggris di Jalan Benteng Miring yang menghan-curkan dua kendaraan lapis baja Inggris. Pertempuran terus terjadi dan puncaknya pada 10 Nopember 1945 tentara Inggris menyerang dari darat dengan pasukan Gurkha-nya, tembakan arteleri dari kapal penjelajah Sussex dan empat destroyer, dan diperkuat dengan bom-bardemen pesawat udara yang disambut dengan perlawanan "arek-arek Suroboyo" dengan semangat "Merdeka atau Mati". Akibat pertem-puran ini kesatuan-kesatuan pejuang terdesak dan Laksamana III Atmadji sebagai pimpinan pejuang TKR Laut Surabaya dan sekitarnya memindahkan TKR Laut ke Lawang untuk memudahkan koordinasi pasukan.

Pertempuran sengit antara Belanda dan Corps Marinir (CM) juga terjadi di Tegal dan sekitarnya. Serangan Belanda yang datang dari arah Cirebon begitu kuat karena dilengkapi dengan pasukan kavaleri, artileri dan infantri serta didukung dengan pesawat udara sehingga dapat memukul mundur kedudukan pasukan CM yang dipimpin R. Soehadi. Kota Tegal diduduki Belanda sejak 24 Juli 1947 dan pasukan ALRI Pangkalan Tegal melakukan konsolidasi ke arah selatan dan timur. Front pertempuran pecah di Sragi, Kalibakung dan Bumijawa untuk menghambat gerak pasukan Belanda ke arah selatan. Bahkan pasukan CM yang sudah terorganisasi dengan baik ini mampu menghancurkan pasukan Belanda dalam pertempuran di Sragi tanggal 5 Agustus 1947 dengan cara memancing pasukan Belanda ke daerah "killing ground" dan dua kompi pasukan infantri Belanda dapat dihancurkan. Dalam per-tempuran di Kalibakung pasukan CM terus men-dapat gempuran dari pesawat "cocor merah" Mustang P-51 dengan tembakan dan bom. Menghadapi gempuran Belanda yang juga diperkuat pasukan komando Tijgers Troep ini, pasukan CM dengan pertahanan parit mampu memukul mundur gerak pasukan Belanda. ©
Tanggal 9 Mei 1947 kapal perang Belanda HMS Banckert masuk teluk Sibolga dalam mengejar kapal dagang dari Singapura sebagai kapal penyelundup. Oleh Residen Tapanuli, dr. Ferdinand Lumban Tobing, kapal Belanda diperintahkan segera meninggal-kan perairan Sibolga. Tetapi keesokan harinya kapal tersebut kembali lagi dan lego jangkar. Utusan RI dipimpin Letnan Oswald Siahaan de-ngan motorboat mendekat dan melakukan per-undingan kedatangan kapal perang Belanda di Teluk Sibolga. Tetapi justru terjadi pertempuran antara motorboat Belanda dengan motorboat ALRI yang mengakibatkan Kopral Galung Silitonga gugur. Pertempuran yang lebih besar kembali terjadi tanggal 12 Mei 1947 yang melibatkan seluruh kemampuan perlawanan masyarakat Sibolga. Korban jatuh di kedua belah pihak dan HMS Banckert mengalami kerusakan cukup parah. ALRI mendapat-kan kapal jenis coaster dari Singapura seberat 160 ton dan diganti nama menjadi Gajah Mada berpangkalan di Cirebon. Untuk meningkatkan ketrampilan anggota ALRI, tanggal 4 Januari 1947 diadakan latihan bersama Angkatan Darat di Laut Cirebon. Kapal Gajah Mada dengan komandan Letnan I Samadikun bersama empat buah kapal patroli pantai lainnya. Ketika konvoi kapal berlayar meninggalkan pelabuhan Cirebon, tiga kapal Belanda (JT 17) yang lego jangkar di luar pintu pelabuhan memperingatkan untuk berhenti. Tetapi pimpinan latihan Letnan I Samadikun tidak mau menghiraukan perintah dan tembakan meriam dari kapal Belanda diarahkan ke kapal Gajah Mada. Kapal Gajah Mada melakukan perlawanan de-ngan kemampuan yang ada, tetapi tembakan meriam yang ketujuh kalinya dapat meneng-gelamkan Gajah Mada dan Letnan I Samadikun gugur dalam pertempuran tersebut.. Ekspedisi Australia merupakan ekspedisi satu-satunya yang dilakukan ke luar negeri dengan tujuan menyam-paikan gambaran tentang perjuangan kemer-dekaan bangsa Indonesia. Setelah disetujui Kementerian Pertahanan, MBU ALRI segera menyiapkan dua ekspedisi. Untuk kepentingan tersebut kesatuan ALRI harus "merampas" kapal Jepang Sjoikate Maru 36. Tanggal 6 Juni 1946 mereka berangkat dari Tegal menuju Jepara untuk memuat perbekalan dan senjata Oerlikon. Untuk mengelabuhi Belanda, kapal diganti nama men-jadi Diponegoro dengan komandan Kapten Bun-saman. Tetapi setelah perbekalan dan senjata dapat dipasang, pesawat jenis Catalina Belanda mengintai kemudian datang mendekat kapal perusak Hr.Ms Kinsbergen dan memerintahkan agar seluruk ABK terjun ke laut sambil menem-bakkan senjata ke arah kapal Diponegoro. Seluruh ABK terjun ke laut, 11 orang berhasil mendarat, 36 orang ditawan dan dipenjarakan di Kalisosok, Surabaya. . Pulau Bali sejak 1946 telah dikuasai kembali oleh Belanda dan untuk mengobarkan semangat per-juangan menentang Belanda tersebut tiga ekspedisi dilakukan oleh para pejuang. Ekspedisi yang pertama dilakukan oleh anggota TKR Laut Malang pada tanggal 4 April 1946 dengan sebutan rombongan ekspedisi Troop Sunda Kecil ALRI dipimpin oleh Kapten Markadi. Rombongan kedua berasal dari Pangkalan X ALRI Banyuwangi dipimpin oleh Kapten Waroka disebut rombongan Waroka dan ketiga dilakukan oleh rombongan Resimen TKR Sunda Kecil yang disebut dengan rombongan Ngurah Rai (sebagian anggotanya terdiri dari orang Bali yang selesai menghadiri pertemuan Panglima TKR di Yogyakarta). Setelah segala persiapan dan koordinasi pasukan selesai dilakukan, rombongan pertama yang diberang-katkan adalah rombongan Waroka dengan tiga kapal layar dengan tujuan pendaratan di Teluk Celukan Bawang pantai utara Pulau Bali untuk mengecoh pertahanan Belanda. Rombongan kedua dipimpin Kapten Markadi diberangkatkan menuju pantai selatan dengan empat kapal berukuran 6 ton. Satu perahu berhasil mendarat di Candi Kesuma sedangkan tiga perahu lainnya kepergok patroli kapal Belanda jenis LCM di dekat Cupel. Pertempuran terjadi antara rombongan Markadi dengan Belanda, dua anggota gugur kena tembakan senjata otomatis kapal Belanda tetapi begitu pertempuran jarak dekat, satu granat yang dilemparkan pejuang dapat mengenai sasaran mengakibatkan kapal meledak dan tenggelam. Rombongan Markadi akhirnya dapat mendarat di daerah Penginuman, Bali. Banyak sekali eks-pedisi dilakukan menuju Sulawesi yang dilakukan oleh berbagai rombongan dengan sasaran Ma-kassar, Palopo dan Majene. Satu ekspedisi yang paling heroik dilakukan kesatuan Bajak Laut hasil penggabungan ALRI Tegal dan Persiapan Sula-wesi Balung Tuhel. Rombongan dipimpin oleh Kapten Andi Amir dan Letnan Abubakar dengan kekuatan tiga perahu bertolak dari Pro-bolinggo tanggal 16 Maret 1946 menuju Supak dan Majene. Tetapi sebelum mendarat di Sulawesi rombongan kepergok patroli Belanda dan terjadi pertempuran sengit. Rupanya Belanda masih terus mengejar rombongan ekspedisi, kali ini kapal perang Hr.Ms. RP107 dibantu korvet Bacan 10 dengan kekuatan senjata lebih lengkap dapat mengalahkannya dalam pertempuran di perairan Pulau Sapudi dan Kapten Haryanto gugur.. Koordinator ekspedisi ini dilakukan oleh Penyelidik Militer Khusus (PMK) dipimpin oleh Letnan Muljadi dan Letnan Yos Su-darso dengan kapal kayu Sindoro dan Semeru. Route pelayaran berbeda dengan jalur biasanya untuk menghindari patroli Belanda. Selepas dari pelabuhan Tegal, banyak kendala dihadapi oleh tim ekspedisi ini dalam perjalanan tetapi karena ketabahan dan semangat yang tinggi maka me-reka berhasil mengibarkan sang Merah Putih di Namlea, Maluku.. Ekspedisi ke Kalimantan dilakukan beberapa kali dengan tujuan yang sama yaitu mengobarkan semangat per-juangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Ekspedisi Rombongan IX Pelopor dilakukan oleh badan perjuangan yang tergabung dalam BPRI. Rombongan ini dipimpin oleh Haji Achmad Hasan berangkat dari Panarukan tanggal 18 Nopember 1945 dan mendarat di daerah Semuda kabupaten Sampit tanggal 28 Nopember 1945. Ekspedisi kedua dilakukan oleh BKR Laut dan Pemuda Kali-mantan berangkat dari Tegal tanggal 23 Nopem-ber dengan kapal motor berlayar Srikaton dan satu kapal layar dipimpin oleh Sapingi dan berhasil mendarat di Pulau Cebek Kalimantan Barat tanggal 30 Nopember 1945. . Para pe-muda pelaut yang tergabung dalam TKR, MKR dan PAL pada tanggal 22 Oktober 1945 dengan menggunakan kapal perang tipe pemburu kapal selam (submarine chaser) S-115. Operasi ini di-pimpin oleh Atmadji dengan tujuan melucuti ten-tara Jepang yang masih bertahan di Pulau Nya-mukan. Operasi berhasil menawan 419 tentara Jepang, 34 bargas pendarat, 217 senjata karabin, 22 senapan mesin, beberapa peti granat dan peluru.(sumber)
Read More......

Standarisasi Alutsista Jembatan Menuju Efisiensi Dan Kemandirian Teknologi TNI AL

Oleh : Heri Sutrisno

Sebagai negara yang dua pertiganya wilayahnya berupa lautan dengan tingkat potensi ancaman terhadap integrasi nasional yang semakin kompleks di dan lewat laut, Indonesia dituntut untuk membangun TNI AL yang mampu melindungi kepentingan nasional di laut. Keterbatasan anggaran pertahanan harus ditindaklanjuti dengan upaya efisiensi dalam pengembangan kekuatan TNI AL, salah satunya standarisasi alat utama sistem senjata (alutsista) angkatan laut.

Pengalaman di negara – negara yang sukses menjalankan alih teknologi, efisiensi operasionalisasi alutsista dan kemandirian teknologi angkatan laut semacam India, Cina dan Korea Selatan, salah satunya dilakukan dengan standarisasi alutsista angkatan lautnya. Dua atau tiga dekade yang lalu kondisi perekonomian ketiga negara tersebut serupa dengan Indonesia saat ini, demikian juga dengan kondisi angkatan lautnya yang memiliki alutsista dari banyak sumber dan operasionalisasi yang relatif tidak efisien. Sebagai contoh sampai era 1980-an India memiliki kapal – kapal perang platform sejenis berteknologi Inggris, Belanda, Amerika Serikat,Italia, dan Rusia. Motif pengadaan saat itu adalah dalam rangka menghadapi konflik dengan Pakistan. Kemudian dengan semangat swadeshi,negara tersebut mampu mewujudkan kemandirian teknologi angkatan lautnya dengan mengadopsi standarisasi alutsista AL Rusia pada sebagian besar kapal – kapal tempurnya dari jenis kapal tempur berplatform ringan semacam kapal tempur cepat hingga kapal perusak. India mendapatkan lisensi untuk membangun alutsista angkatan laut Rusia di sejumlah industri dalam negerinya berikut semua suku cadangnya. Bahkan negara itu mampu membangun tipe kapal tempur sendiri tentu saja dengan standarisasi alutsista Rusia.

Selama ini pengadaan alutsista TNI AL lebih banyak mendasarkan pada kepentingan – kepentingan yang bersifat pragmatis. Pada masa konfrontasi di awal dekade 1960-an Indonesia lebih banyak mendatangkan kapal – kapal perang dari Uni Sovyet, kemudian saat Pemerintah Orde Baru berkuasa kita membeli kapal – kapal berteknologi Barat dari banyak negara (Belanda, Jerman, Korea selatan, dan Inggris), dan pada dekade 1990-an Pemerintah membeli kapal – kapal perang eks AL Jerman Timur yang jauh berbeda sifat teknologi dan konsep operasionalisasi dengan kapal – kapal TNI AL yang ada.

Imbas pengadaan alutsista masa lalu itu masih terasa sampai saat ini. Tidak banyak AL negara – negara di dunia yang memiliki begitu banyak variasi jenis dan sumber alutsistanya seperti TNI AL yang berasal dari Amerika Serikat,Belanda, Inggris, Korea Selatan, Jepang, Australia, Jerman, Yugoslavia, Rusia, Italia, Afrika Selatan, Perancis dan Cina. Kondisi ini menimbulkan permasalahan yang sangat krusial dalam aspek logistik dan aspek pendidikan – pelatihan personel pengawaknya yang semuanya bermuara pada inefisiensi pada pembinaan kekuatan TNI AL.

Permasalahan di bidang logistik terletak pada penyediaan suku cadang yang harus didatangkan dari banyak negara sesuai negara asal pembuat alutsista tersebut. Tipe sistem alut sista yang berbeda tersebut mengakibatkan beban materi pendidikan dan latihan yang juga menyerap pembiayaan yang lebih banyak. Untuk menyiapkan sumber daya manusia pengawaknya alutsista harus menyiapkan perangkat lunak dan fasilitas pelatihan yang jauh lebih banyak. Permasalahan ini belum termasuk saat TNI AL harus menyesuaikan manuver masing – masing kapal dalam satu gugus tugas saat menjalankan latihan dan operasi yang melibatkan alutsista dari sumber yang berbeda. Hal ini berakibat biaya yang dikeluarkan untuk pembinaan kekuatan TNI AL tidak sepadan dengan out put yang dihasilkan. Permasalahan ini tidak hanya sebatas inefisiensi operasional namun juga mempersulit transfer of technology (TOT) sebab tidak ada patokan sistem teknologi alutsista mana yang diprioritaskan dikembangkan di dalam negeri.

Peluang Standarisasi
Kebijakan pengadaan alutsista Pemerintah RI yang mensyaratkan alih teknologi membuka peluang bagi terwujudnya kemandirian industri alutsista angkatan laut. Ditengah keterbatasan anggaran pertahanan saat ini, langkah – langkah implementasi alih teknologi harus mempertimbangkan efisiensi baik dalam pembangunan alutsista maupun operasionalisasi alutsista oleh TNI AL. Salah satu upaya yang paling sesuai dengan kondisi tersebut adalah melalui standarisasi alutsista di lingkungan TNI AL.

Standarisasi alutsista merupakan upaya penentuan alutsista sesuai dengan kategori dan jenis alutsista. Penentuan standar alutsista akan lebih memudahkan pengembangan industri pertahanan dalam negeri untuk membangun dan memproduksi alutsista yang dibutuhkan oleh TNI AL melalui mekanisme undang – undang dan aturan yyang berlaku. Selanjutnya masing – masing komponen dari standar alutsista yang ditetapkan akan menjadi program yang dikembangkan oleh masing - masing potensi industri dalam negeri. Dengan demikian berbagai industri dalam negeri yang terkait dengan pertahanan secara jelas memahami kontribusi apa yang dapat mereka berikan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan alut sista TNI AL.

Standarisasi alutsista akan memecahkan permasalahan efisiensi yang selama ini mendera jajaran TNI AL. Standarisasi akan meniadakan pemborosan aspek logistik, khususnya suku cadang dan aktifitas pemeliharaan. Kesamaan tipe teknologi alutsista meskipun ukuran platform berbeda akan meningkatkan efisiensi dari segi biaya karena jenis komponen yang sama akan dapat digunakan untuk suku cadang pada komponen sistem lainnya.
Keuntungan lainnya dari standarisasi alutsista adalah memaksimalkan kegiatan pemeliharaan alutsista. Dengan penentuan standarisasi, maka diharapkan manajemen dan prosedur pemeliharaan akan menggunakan satu filosofi dan konsep yang sama. Hal ini berdampak pada penghematan waktu dan optimalisasi manajemen pemeliharaan alut sista yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi positif terhadap kesiapan dan kesiagaan operasional.

Standarisasi alutsista juga akan berdampak pada efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pembinaan pendidikan dan latihan (diklat) personel pengawak alutsista. Beban kurikulum dan penyiapan fasilitas diklat akan lebih ringan namun memiliki bobot kwalitas yang tinggi bagi pemahaman dan ketrampilan prajurit pengawak alutsista. Tingkat pemahaman dan ketrampilan personel pengawak akan mempengaruhi profesionalisme prajurit yang menerapkan kecakapannya di lapangan.

Sebagai implementasinya standarisasi dapat dimulai dengan program pengembangan alutsista baru TNI AL yang sedang berlangsung. Saat ini TNI AL sedang dalam tahapan pembangunan empat kapal korvet klas Sigma (klas KRI Diponegoro) dan empat kapal amfibi besar jenis Landing Platform Dock(LPD) kelas KRI Makassar.Korvet klas Sigma memiliki standar teknologi kapal perang yang cukup canggih untuk ukuran saat ini. Sesuai kontrak rencananya dua unit korvet dibangun di galangan Indonesia, namun demikian BUMN Indonesia belum siap melaksanakan pembangunan itu sehingga keempat unitnya dibuat di galangan Schelde Belanda. Sedangkan untuk proyek LPD dua unit sudah diselesaikan oleh galangan Daewoo Korea Selatan, dan dua unit sisanya sedang dikerjakan di galangan PT PAL Indonesia.

Disamping itu Dephan RI juga sedang merencanakan pengembangan korvet nasional atau perusak kawal rudal (PKR) yang akan dibuat di dalam negeri. Momen rencana PKR domestik atau korvet nasional ini bisa diterapkan standar seperti korvet klas Sigma sehingga terwujud kesamaan tipe teknologi alutsista TNI AL di masa mendatang dengan berbagai keuntungan dan kemudahan operasionalisasinya.

Implementasi selanjutnya juga dapat dilakukan dengan momen rencana pengadaan kapal selam oleh Dephan. Dua kapal selam sebelumnya dari klas Cakra atau U-209/1300 masih layak dioperasikan dua dekade lagi tentunya dengan melalui overhaul atau midlife modernization. Untuk mencapai optimalisasi operasional armada kapal selam TNI AL di masa mendatang, unit – unit kapal selam baru nantinya sebaiknya bertipe teknologi U-209 dan pengembangannya yaitu U-212 dan 214. Pihak pabrik kapal selam Jerman itu telah memberikan lisensi pembangunannya di sejumlah negara diantaranya Korea Selatan dan India. Dengan pola kontrak yang sama dengan korvet Sigma dan LPD, Indonesia berpotensi untuk dapat membangun kapal selam sendiri dengan standar teknologi kapal selam sebelumnya dan rangkaian pengembangannya.

Standarisasi alutsista angkatan laut merupakan jembatan yang menghubungkan alih teknologi menuju kemandirian industri alutsista TNI AL sekaligus meningkatkan efisiensi penyiapan dan operasionalisasi kekuatan tempur angkatan laut dalam rangka mewujudkan visi TNI AL yang Besar, Kuat, Profesional dan Solid.(sumber)
Read More......

Photobucket
Defence (10) Ideologi (6) Keamanan (5) Konflik (1) Pertahanan (16) TNI (10) TNI AD (4) TNI AL (3)
Defender Magazine